Sekilas Tentang Umroh Ramadhan - Ramadhan merupakan bulan yang sangat mulia. Setiap ibadah yang
dilaksanakan pada bulan Ramadhan, niscaya pahalanya akan dilipatgandakan.
Inilah bulan untuk beramal sebanyak-banyaknya. Baik itu ibadah shalat, zakat,
sedekah, infak, membaca Al Quran, dzikir, shalawat dan lain sebagainya.
Demikian juga dengan ibadah umrah.
Sesuai hadits shahih Rasulullah SAW diantaranya :
·
“Barangsiapa yang
umrah bersamaku di bulan Ramadhan nilainya sama dengan pergi haji bersamaku.”
(HR. Al-Bukhari).
·
“Jika bulan
Ramadhan telah tiba, maka tunaikanlah umrah, sebab umrah di bulan Ramadhan
menyamai ibadah haji.” (HR. Al-Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1258).
Diriwayatkan
oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam pernah bertanya kepada salah seorang wanita anshar: “Mengapa anda
tidak ikut haji bersama kami?”
“Kami hanya
memiliki 2 ekor onta. Onta yang satu dipakai suamiku bersama anakku pergi haji.
Sementara yang satu digunakan untuk mengairi kebun.” Jawab wanita itu.
Kemudian
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan,
فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِيJika datang bulan Ramadhan, lakukanlah umrah. Karena umrah di bulan Ramadhan, senilai haji bersamaku. (HR. Bukhari 1782 dan Muslim 1256).
Dalam
riwayat lain dinyatakan, wanita anshar yang disebutkan dalam hadis di atas
bernama Ummu Ma’qil.
Ulama
berbeda pendapat tentang keutamaan umrah Ramadhan yang disebutkan dalam hadis
di atas. Ada 3 pendapat ulama dalam hal ini:
Pertama,
keutamaan ini hanya berlaku khusus untuk wanita itu, dan tidak berlaku untuk
yang lainnya. Diantara ulama yang memilih pendapat ini adalah Said bin Jubair,
salah seorang ulama tabi’in, murid Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu.
Pendapat beliau dinukil oleh Ibn Hajar dalam Fathul Bari (3/605).
Diantara
dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadis Ummu Ma’qil di atas. Terdapat
tambahan dalam riwayat Abu Daud, bahwa setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyebutkan keutamaan umrah bulan Ramadhan, Ummu Ma’qil mengatakan:
الْحَجُّ حَجَّةٌ، وَالْعُمْرَةُ عُمْرَةٌ، وَقَدْ قَالَ: هَذَا لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَدْرِي أَلِيَ خَاصَّةً“Haji nilainya haji, umrah nilainya umrah. Tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian kepadaku. Aku tidak tahu apakah ini khusus untukku?.” Maksudnya, apakah juga berlaku untuk seluruh manusia?. (HR. Abu Daud 1989).
Hanya saja,
tambahan keterangan Ummu Ma’qil ini statusnya lemah, sehingga tidak bisa
diterima sebagai dalil. Demikian keterangan al-Albani dalam dhaif sunan Abu
Daud.
Kedua,
keutamaan ini hanya berlaku untuk orang yang sudah berniat haji, namun tidak mampu melaksanakannya.
Kemudian dia ganti dengan umrah di bulan Ramadhan. Sehingga dia mendapatkan
pahala haji sempurna bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
meskipun dia hanya melakukan umrah, karena adanya niat untuk berangkat haji
bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnu Rajab dalam Lathaif al-Ma’arif mengatakan,واعلم أن مَن عجز عن عملِ خيرٍ وتأسف عليه وتمنى حصوله كان شريكا لفاعله في الأجر…“Pahami bahwa orang yang tidak mampu melakukan amal shaleh, kemudian dia bersedih dan dia sangat berharap untuk bisa melakukannya maka dia mendapatkan pahala yang sama sebagaimana orang yang melakukannya.”
Kemudian
Ibnu Rajab menyebutkan beberapa contoh,
وفات بعضَ النساءِ الحجُّ مع النبي صلى الله عليه وسلم ، فلما قدم سألته عما يجزئ من تلك الحجة ، قال : ( اعتمري في رمضان ، فإن عمرة في رمضان تعدل حجة أو حجة معي )Sebagian wanita tidak bisa ikut haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau pulang, si wanita bertanya amal apa yang bisa menggantikan nilai haji bersama beliau? Beliau menyarakankan: “Lakukanlah umrah di bulan Ramadhan. Karena umrah di bulan Ramadhan, senilai haji bersamaku.” (Lathaif Ma’arif, Hal. 249).
Ketiga,
keutamaan ini berlaku umum, untuk semua kaum muslimin.
Inilah
pendapat mayoritas ulama dari berbagai madzhab yang empat, bahwa keutamaan
dalam hadis ini tidak hanya berlaku untuk Ummu Ma’qil, namun berlaku untuk
seluruh kaum muslimin.
[simak: Hasyiyah
Ibn Abidin (2/473), Mawahib al-Jalil (3/29), Al-Majmu’
(7/138), Al-Mughni (3/91), dan Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah (2/144).]
Insya Allah,
pendapat ketiga inilah yang lebih kuat. Berikut diantara alasannya,
Pertama,
terdapat banyak sahabat yang meriwayatkan hadis ini, sehingga keutamaan umrah
Ramadhan tidak hanya berlaku untuk Ummu Ma’qil.
At-Turmudzi
mengatakan,
وفي الباب عن ابن عباس وجابر وأبي هريرة وأنس ووهب بن خنبش“Tentang hadis ini, terdapat riwayat lain dari Ibn Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Anas, dan Wahb bin Khanbasy.” (Jami’ At-Turmudzi/sunan Tumudzi, 3/267).
Dan sebagian
besar riwayat, tidak menyebutkan kisah wanita tersebut.
Kedua,
pendapat bahwa ini khusus untuk mereka yang ingin haji namun tidak mampu
berangkat, kemudian digantikan dengan umrah Ramadhan adalah pendapat yang
kurang tepat. Karena orang yang benar-benar ingin melaksanakan haji, kuat
niatnya, sudah melakukan banyak usaha, namun dia terhalangi dan itu di luar
kehendaknya, maka Allah akan memberinya pahala sebagaimana orang yang
mengamalkannya karena semangat untuk berbuat kebaikan yang ada pada dirinya.
Dan itu tidak perlu diganti dengan amal tertentu. Artinya, orang yang sudah
berusaha hendak berhaji, dan dia tidak jadi berangkat karena halangan tertentu,
dia tetap mendapatkan pahala haji. Sekalipun dia tidak melakukan umrah.
Akan tetapi,
jika dia ingin mendapatkan pahala haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dia bisa melakukan umrah di bulan Ramadhan. (Fatwa Islam, no.
104926). (sumber : http://www.konsultasisyariah.com/keutamaan-umrah-ramadhan)
Untuk
Program Umroh Ramadhan, Arminareka Perdana melayani beberapa program dan paket
diantaranya :
·
Umroh Awal Ramadhan 9 Hari
·
Umroh Pertengahan Ramadhan 9 Hari
·
Umroh Akhir Ramadhan 15 Hari
·
Umroh Full Ramadhan 30 Hari
Untuk Paket Umroh Plus silahkan klik link ini